Selamat Membaca Teman-teman

SQ SEBAGAI LANDASAN SMART ENTREPRENEUR Menurut Danah dan Zohar dan Ian Marshall, kecerdasan spiritual (SQ) merupakan kecerdasan ya...


SQ SEBAGAI LANDASAN SMART ENTREPRENEUR


Menurut Danah dan Zohar dan Ian Marshall, kecerdasan spiritual (SQ) merupakan kecerdasan yang kita pakai untuk merengkuh makna, nilai, tujuan terdalam, dan motivasi tertinggi kita. Kecerdasan spiritual adalah cara untuk  menggunakan makna, nilai, tujuan, dan motivasi itu dalam proses berfikir dalam keputusan yang kita buat dan dalam perbuatan yang patut kita lakukan. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan moral yang memberikan kemampuan bawaan untuk membedakan yang benar dan yang salah. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang membawa kebenaran, kebaikan, keindahan, keadilan, dan kasih saying dalam hidup.
Pemimpin perusahaan diharapkan menggunakan kecerdasan spiritualnya untuk membangun modal (spiritual capital/SC) dalam perusahaannya yang membuat budaya perusahaannya berkelanjutan. Modal spiritual akan mengubah budaya perusahaan secara dramatis dan selanjutnya akan mengubah proses bisnis secara mendasar pula yang diharapkan akan dapat mengubah dunia.
`Perusahaan berbasis modal spiritual senantiasa menempatkan visi, misi, dan strategi mereka dalam konteks makna dan nilai yang lebih luas. Selalu mawas diri yang pada akhirnya akan menyelamatkan  kehidupan, meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki taraf pendidikan, kesehatan, komunikasi, memenuhi kebutuhan manusia, melestarikan lingkungan global, memulihkan kesadaran keunggulan, kerja sama, keunggulan dalam melayani, dan sebagainya.
Perusahaan berbasis modal spiritual melihat bisnis sebagai tujuan manusia yang lebih luas dan merupakan bagian dari pengabdian kepada Tuhan. Mereka merasa menjadi bagian dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, bumi dan kehidupan itu sendiri sebagai pelayanan terhadap Tuhan atau ibadah.
Perusahaan berbasis modal spiritual adalah perusahaan yang peduli, merayakan keragaman, berkarakter, fleksibel dan proaktif, serta berusaha memberikan tanggapan positif atas setiap situasi yang buruk. Di samping itu, perusahaan yang kaya modal spiritual juga akan memelihara sikap rendah hati dan memiliki jiwa pengabdian yang tinggi serta selalu membangkitkan pertanyaan-pertanyaan mengapa perusahaan itu diciptakan. Cooperative Bank di Inggris, yang selalu melakukan investasi dengan berbasis etika, justru mampu menjadikan deposito pelanggannya 5 kali lipat dan menyumbangkan keuntungan 15-18%.
Di Starbucks, para eksekutif berpendapat bahwa tanggung jawab sosial yang besar terhadap sekolah-sekolah, klinik dan harga yang fleksibel menyebabkan karyawan betah bekerja di perusahaan tersebut dan setiap penambahan untuk karyawan memberikan tambahan keuntungan tahunan sebesar 100.000 dolar Amerika Serikat. Pada 2019, Starbucks sebagai perusahaan yang paling dikagumi peringkat 5 dunia versi majalan Fortune.
Grameen Bank merupakan bank untuk kaum miskin. Bank tersebut tidak bangkrut, tetapi sebaliknya justru tumbuh dan menjadikan pendirinya, yaitu Muhammad Yunus, memperoleh hadiah Nobel.
“Satu langkah tunggal yang akan memungkinkan orang miskin menanggulangi kemiskinan mereka adalah mendapatkan kredit. Uang adalah kekuatan. Saya telah membuktikan bahwa kredit akan diterima sebagai hak asasi manusia. Jika dapat mendatangkan sebuah system yang memungkinkan setiap orang dapat mengakses kredit yang menjamin pengembaliannya dengan baik, saya dapat memberikan Anda suatu garansi bahwa kemiskinan tidak kan berakhir lama,” kata Muhammad Yunus. Sebaliknya, “Perusahaan yang miskin modal spiritual, seperti monster yang memakan dirinya sendiri,” Kata Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya, Spiritual Capital.


3 comments: